Senin, 18 Oktober 2021

Anggota DPRD Kubar, Noratim : Saya Himbau Nelayan se-Kubar Berhenti Menyetrum Ikan

17 August 2021
Anggota DPRD Kubar, Noratim. (Foto : Dok.Mahakam Pos).

Kubar, mahakampos.com – Anggota Komisi II DPRD Kutai Barat (Kubar), Noratim, menghimbau masyarakat nelayan di 16 kecamatan se-Kubar, agar menghentikan kegiatan illegal fishing dengan cara menyetrum dan menggunakan alat tangkap ikan yang dilarang.
“Utama jangan menggunakan alat setrum jenis apapun, baik mesin generator maupun accu (aki). Termasuk dikawasan danau dan sungai nelayan menggunakan kelambu untuk menangkap ikan, tolong dihentkan. Gunakan alat tangkap ikan yang standar saja,” jelas Noratim kepada wartawan di Gedung DPRD Kubar, Sendawar, usai mengikuti Sidang Paripurna, Senin (16/8/2021).

Noratim mengingatkan warga (nelayan), agar mengerti. Bahwa menangkap ikan menggunakan alat setrum dan alat tangkap ikan yang dilarang Undang-Undang, maka akan berujung ke proses hukum kurungan badan (penjara).
“Sekali lagi saya ingatkan, kepada warga nelayan yang ada di danau, sungai-sungai, bahkan Sungai Mahakam, hentikan kegiatan menyetrum ikan. Juga hentikan menggunakan kelambu, pukat harimau, dan alat tangkap lainnya yang berpotensi memusnahkan habitat ikan,” tegasnya.

Dia menuturkan, sangat miris dan kasihan, jika aparat keamanan mendapati mereka (warga nelayan) yang menggunakan setrum dan lainnya yang di larang UU dalam menangkap ikan, maka akan diamankan dan di penjara.
“Sebagai wakil rakyat, sekali ini saya ingatkan agar rakyat Kubar sadar diri ya. Karena kalau sudah masuk dalam kasus hukum karena telah melanggar aturan, maka kami tidak bisa berbuat banyak,” ucap pria yang terkenal vokal di DPRD Kubar itu memperjuangkan aspirasi masyarakat.

Noratim mengatakan, secara lembaga, DPRD Kubar mengharapkan masyarakat agar taat aturan hukum yang berlaku. Karena DPRD tidak bisa mengintervensi jika masyarakat terbukti melanggar hukum dan dilakukan penindakan secara hukum oleh penegak hukum.
“Saya ingatkan juga jika nelayan dari luar Kubar masuk ke kawasan Danau Jempang, agar tidak membawa alat tangkap ikan yang dilarang. Karena hal itu sudah dilaporkan kepada aparat penegak hukum. Jika selanjutnya didapati alat terlarang, maka aparat penegak hukum akan bertindak tegas,” beber Anggota Fraksi Demokrat Nasdem Perindo (DNP) DPRD Kubar itu.

UU Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan
———————————————————
Noratim menegaskan, menangkap ikan menggunakan alat listrik/setrum (menyetrum) bukan hanya membahayakan lingkungan. Tetapi juga berbahaya langsung bagi manusia. Dia menuturkan, kejadian pencari ikan dengan setrum tewas akibat tersengat (listrik) alatnya sendiri sudah pernah terjadi di beberapa tempat. Sadar akan bahaya metode itu, pemerintah sudah melarangnya melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.
“Larangan yang dimaksud terdapat dalam Pasal 8 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan,” ujarnya.

Untuk diketahui, Pasal 8 ayat (1) UU No. 31 Tahun 2004 tentang Perikanan berbunyi bahwa, setiap orang dilarang melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.
Ada sanksi pidana bagi pelanggar Pasal 8 ayat (1) sebagaimana tercantum dalam Pasal 84 ayat (1) UU Perikanan yang berbunyi: bahwa, setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 ayat (1), dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun dan denda paling banyak Rp 1,2 miliar. (imn/red)

berita terkait
Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *