Senin, 18 Oktober 2021

Eksploitasi Hutan Skala Besar di Kubar, Bekantan Lenyap, Kicauan Cucak Rowo Hilang

12 August 2021
///Hutan di Kubar ‘sakit’, akibat eksploitasi besar-besaran oleh perkebunan sait dabn perusahaan loging. (foto : dok. Mahakam Pos)///

Kubar, mahakampos.com– Anggota Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), Pius Erick Nyompe mengatakan bahwa kondisi hutan di Kabupaten Kutai Barat (Kubar), saat ini ‘sakit’. Hal itu terindikasi disebabkan oleh pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit dan penebangan pohon oleh perusahaan kayu log skala besar yang telah terjadi sejak berpuluh tahun silam.
“Kami (Walhi) mendapat catatan bahwa wilayah (lingkumgan) hutan Kaltim, khususnya Kubar sudah sakit. Artinya sudah tidak baik lagi untuk bertahannya kehidupan makhluk hidup yang ada didalamnya,” tegas Pius Erick Nyompe, melalui sambungan telepon kepada mahakampos.com, Kamis (12/8/2021).

Pius erick nyompe ( anggota Walhi)

Dia menjelaskan, penyebab utama kerusakan lingkungan hutan tersebut diantaranya karena perburuan liar, kemudian eksploitasi hutan yang luar biasa (oleh perusahaan sawit dan kayu log) sehingga merusak lingkungan.
“Kami (Walhi) memantau, kontrol dari pemerintah boleh dikatakan tidak ada samasekali terhadap lingkungan,” ungkap Pius Erick Nyompe yang juga Anggota Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

Pius menjelaskan, diantara hewan yang sejak zaman dahulu ‘manja’, yakni Bekantan yang merupakan hewan endemik pulau Kalimantan yang tersebar di hutan bakau, rawa dan hutan pantai Sungai Mahakam dan sejumlah anak sungai, kini telah langka.
“Karena penangkapan liar yang terus berlanjut, hilangnya hutan, dan keterbatasan habitatnya, bekantan ditempatkan dalam status endangered (terancam punah) di dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN).
“Walhi berharap pemerintah (pusat, provinsi, dan kabupaten) agar ada kepeduliaan terhadap kerusakan lingkungan, khususnya di Kubar,” urainya.
“Kami sudah melihat hutan pada 16 kecamatan se-Kubar umumnya sudah rusak semua. Bukan hanya populasi bekantan yang berkurang. Termasuk burung Cucak Rowo nyaris punah saat ini,” tukasnya.

Padahal kata Pius Erick Nyompe, kondisi eksploitasi hutan dan dibukanya jutaan hektare perkebunan sawit di Kubar, samasekali tidak menunjang untuk membangkitkan ekonomi kerakyatan.
“Karena tidak ada kepeduliaan pemerintah dengan persoalan buruhnya, harga buah sawit yang tidak standar bagi masyarakat, bahkan parah lagi, bagi hasil plasma bagi masyarakat tidak berjalan.,” tandasnya.(imn*/red)

berita terkait
Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *