Senin, 18 Oktober 2021

Muara Bunyut Kampung Terbanyak Pelabuhan Perusahaan Tambang

2 October 2021
Keterangan Foto : Petinggi Muara Bunyut, Simson Suhendi.(Foto : Dok. Mahakam Pos)

Sempit Lahan Pemakaman Kampung, Berharap Kebijakan Perusahaan

 

Kubar, Mahakampos.com– Kampung Muara Bunyut, Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur, merupakan salah satu kampung di Kubar yang memiliki terbanyak jetty (pelabuhan) perusahaan tambang batubara.

Kampung Muara Bunyut dengan luas wilayah mencapai 43,17 km² tersebut, sangat strategis. Jarak dari Ibukota Kecamatan Melak hanya berkisar 10,6 km, dapat ditempuh menggunakan kendaraan bermotor melalui akses darat dan Sungai Mahakam.

Lokasi Kampung Muara Bunyut berada di tepi perairan Sungai Mahakam. Sedikitnya ada 7 perusahan tambang batubara yang pelabuhannya berada dikawasan kampung itu.

Petinggi (Kepala Kampung) Muara Bunyut, Simson Suhendi, kepada Mahakampos.com mengatakan, dengan banyak perusahaan yang masuk, membuat kampung itu saat ini tidak lagi memiliki areal lahan pertanian, seperti pada 20 tahun silam.
“Jadi lahan disekitar kampung yang masih kelihatan hijau oleh kebun karet, sesungguhnya sudah menjadi milik perusahaan. Karena memang kebun masyarakat sudah dijual kepada perusahaan,” urainya pada pertengahan September 2021di Kantor Kepala Kampung Muara Bunyut.

Simson Suhendi mengatakan, dengan kondisi itu, Pemerintah Kampung Muara Bunyut berharap agar sejumlah perusahaan yang beroperasi diwilayah itu bisa membantu pembangunan kampung.

Menurut Suhendi, menjelang pasca tambang, disamping Corporate Social Responsibility (CSR), pihaknya berharap agar dana sosial lainnya dari perusahaan untuk membantu kampung membangun sarana prasarana, agar dapat tersalur dengan lancar.
“Tanggung jawab sosial perusahaan, sebagai bentuk perhatiannya dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan berdampak positif bagi lingkungan,” tegasnya.

Dia menyebut, dana sosial selain CSR bagi Kampung Muara Bunyut, dibutuhkan untuk membangun sarana prasarana olahraga kampung. Kemudian, pemerintah kampung juga sudah mengusulkan, agar lahan yang tidak dikelola oleh perusahaan sekitar kampung untuk dihibahkan
kepada masyarakat.
“Kampung Muara Bunyut sangat sempit lahan untuk lokasi pemakaman. Saat ini pemakaman kampung bercampur menjadi satu lokasi dari beragam agama,” ungkapnya.
“Hal itu sudah dibahas bersama. Kami mengharapkan kebijakan pihak perusahaan sekitar. Agar bisa membantu menghibahkan lahan yang tidak di pakai untuk areal makam,” tukas Simson.

Rapak Paot Potensi Lahan Persawahan
——————————————————
Dibidang ekonomi, Petinggi simson Suhendi berharap agar kedepan ketika perusahaan meninggalkan Muara Bunyut, ekonomi masyarakat sudah semakin berkembang.

Untuk itu kata dia, Kampung Muara Bunyut memiliki lahan basah (rawa/rapak) yang hingga saat ini belum dikelola. Padahal areal tersebut berpotensi besar sebagai lahan persawahan.

Areal tersebut merupakan lahan gambut Rapak Paot. Lokasinya berada di kawasan RT 04, Muara Bunyut. Lahan tersebut belum di olah, masih berupa hutan belukar setengah rimba masih berdiri tegak pohon-pohon besar. Saat ini di Rapak Paot sudah berjalan uji coba lahan gambut tersebut di buka oleh salah satu kelompok tani. Ditanami padi, ternyata berhasil.
“Memang belum bisa langsung dijadikan lahan sawah. Karena Rapak Paot masih ditumbuhi oleh kayu besar. Tapi potensinya ditanami padi cukup bagus,” urainya.

Menurut petinggi, untuk membuka Rapak Paot tidak bisa menggunakan alat berat. Karena memang merupakan areal rawa gambut. Hanya bisa diolah secara manual. Luas total Rapak Paot mencapai 200 hektare.
“Kami pemerintah kampung berencana mengundang Dinas Pertanian Kubar meminta arahan dan analisa dalam rencana pengolahan Rapak Paot. Apakah bisa dikembangkan atau tidak,” katanya.

Potensi lahan rawa Rapak Paot sangat bagus. Karena sejak dahulu kala jika musim banjir, debit banjir paling tinggi hanya selutut orang dewasa. Terkait hal itu, Petinggi Simson Suhendi meminta dukungan masyarakat Muara Bunyut dalam rencana pembukaan lahan Rapak Paot untuk dijadikan areal sawah.

Menurutnya, hal itu akan bisa menunjang masa depan masyarakat. Kata dia, tidak selamanya masyarakat kampung bergantung harap kepada anggaran (dana) pemerintah maupun perusahaan.
“Supaya kedepan kelompok tani maupun masyarakat bisa mandiri,” pungkasnya.(Penulis : Imran/red)

berita terkait
Komentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *